Kuliner2 mnt baca · Diperbarui 1 September 2026

Laksa Betawi: Sejarah, Ciri Khas, dan Kenapa Makin Langka

Kuah santan kuning, taburan daun kemangi, disantap panas-panas di pagi hari. Laksa Betawi bertahan turun-temurun, tapi jumlah penjualnya terus berkurang.

Bimo Prasetyo
Tim Penulis & Editor Laksa Berita
LAKSA BERITAKULINERLaksa Betawi: Sejarah,Ciri Khas, dan KenapaMakin Langka

Laksa Betawi adalah salah satu hidangan sarapan tradisional Jakarta yang masih bertahan hingga kini, meski jumlah penjualnya jauh menyusut dibanding beberapa dekade lalu. Hidangan ini merupakan bagian dari perbendaharaan kuliner Betawi yang tumbuh dari percampuran budaya Tionghoa, Arab, Melayu, Sunda, dan Eropa di Batavia.

Ciri Khas Laksa Betawi

Yang membedakan laksa Betawi dari varian lain:

  • Kuah santan kuning yang diberi warna dan aroma dari kunyit, dimasak dengan bumbu halus dan udang atau ebi untuk rasa gurih.
  • Isian bihun sebagai karbohidrat utama, kadang ditambah potongan ketupat.
  • Pelengkap berupa telur rebus, tahu, perkedel, taoge, dan kentang rebus.
  • Taburan daun kemangi segar yang menjadi penanda rasa — aroma harum yang langsung tercium begitu daun tersiram kuah panas.
  • Bubuk kelapa sangrai (serundeng halus) pada sebagian versi, menambah tekstur dan rasa gurih yang dalam.

Rasanya gurih, hangat oleh rempah, tetapi tetap ringan berkat kemangi — tidak seberat curry laksa Malaysia.

Iklan Sponsor
Promosi Bisnis Anda Di Sini
Jangkau ribuan pemilik usaha dan profesional di Indonesia setiap hari. Dapatkan slot iklan artikel dengan HTR tinggi.

Bedanya dengan Laksa Bogor

Laksa Betawi dan laksa Bogor bersaudara dekat, tetapi:

  • Laksa Bogor memakai oncom yang dihaluskan ke dalam kuah, memberi aroma fermentasi yang khas dan warna kuah lebih gelap.
  • Laksa Bogor sering memakai potongan ketupat lebih banyak dibanding bihun.
  • Laksa Betawi lebih menonjolkan udang/ebi pada kuahnya.

Akar Sejarahnya

Sebagai kota pelabuhan sejak abad ke-16, Batavia menjadi tempat bertemunya dagang dan penduduk dari banyak bangsa. Komunitas Tionghoa Betawi (Cina Benteng di kawasan Tangerang, dan Tionghoa di dalam kota) berperan besar membawa tradisi mi berkuah, yang lalu dibumbui dengan rempah lokal. Laksa Betawi adalah salah satu jejak paling jelas dari proses itu di meja makan.

Kenapa Penjualnya Makin Sedikit

Beberapa alasan yang sering disebut pedagang dan pengamat kuliner:

  • Proses masak yang panjang. Bumbu harus dihaluskan dan ditumis lama, santan harus dijaga agar tidak pecah — sulit dikerjakan cepat untuk skala warung.
  • Margin tipis untuk makanan sarapan yang dijual murah, sementara harga santan, ayam, dan gas naik.
  • Regenerasi terputus. Banyak penjual laksa Betawi legendaris sudah berusia lanjut dan anak-anaknya memilih pekerjaan lain.

Akibatnya, laksa Betawi kini lebih mudah ditemukan di restoran kuliner Betawi atau bazar makanan tradisional daripada di gerobak keliling seperti dulu.

Di Mana Menikmatinya

Beberapa kantong laksa Betawi yang masih hidup antara lain kawasan pasar tradisional di Jakarta Pusat dan Selatan, sentra kuliner Betawi di Setu Babakan, serta sejumlah rumah makan Betawi yang menjadikannya menu andalan. Paling nikmat disantap pagi hari, panas, dengan sambal dan perasan jeruk nipis.

Kesimpulan

Laksa Betawi adalah potret Jakarta lama dalam semangkuk: hasil pertemuan banyak budaya, dimasak sabar, dinikmati pagi hari. Melestarikannya bukan sekadar soal selera, tetapi soal menjaga satu bab kecil sejarah kota agar tidak hilang bersama generasi penjualnya.

#laksabetawi#kulinerkhasjakarta#sarapanbetawi#laksabetawivsbogor#kulinerbetawi
Bagikan Artikel