Laksa adalah hidangan mi atau bihun berkuah rempah yang lahir dari kebudayaan Peranakan — komunitas keturunan pedagang Tionghoa yang menetap dan berbaur dengan penduduk Melayu di sepanjang Selat Malaka. Hari ini laksa dikenal luas di Indonesia, Malaysia, dan Singapura dengan puluhan varian yang berbeda-beda kuah dan isiannya. Namun akar sejarah, struktur hidangan, dan filosofi rasanya sama.
Dari Mana Kata "Laksa" Berasal?
Tidak ada satu jawaban yang disepakati semua ahli bahasa. Beberapa teori yang paling sering dikutip:
- Dari bahasa Sanskerta "lakṣa" yang berarti "seratus ribu" atau "sangat banyak". Penafsirannya bermacam-macam: merujuk pada banyaknya helai mi dalam semangkuk, atau pada banyaknya bumbu yang harus dihaluskan untuk kuahnya.
- Dari bahasa Persia atau Hindi "lākhshah", sejenis mi atau pasta pipih yang dikenal di Asia Selatan dan Tengah, lalu terbawa lewat jalur dagang laut ke Nusantara.
- Dari dialek Hokkian, bahasa para perantau Tionghoa di kawasan Selat Malaka, yang sebagian penutur kaitkan dengan kata untuk "kotor" atau "berlumpur" — merujuk pada penampilan kuah rempah yang keruh.
Karena laksa menyebar lewat lisan dan dagang, bukan lewat catatan resmi, asal katanya kemungkinan besar tidak akan pernah bisa dipastikan.
Kelahiran di Jalur Dagang Selat Malaka
Sejak abad ke-15, pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Selat Malaka — Malaka, Penang, Singapura, hingga pesisir timur Sumatra dan utara Jawa — menjadi titik temu pedagang dari Tiongkok, India, Arab, dan Nusantara. Sebagian pedagang Tionghoa menetap, menikah dengan perempuan setempat, dan melahirkan komunitas Peranakan (di Malaysia dan Singapura sering disebut Baba-Nyonya).
Dapur Peranakan adalah perpaduan langsung: teknik dan bahan Tionghoa seperti mi, tahu, dan taoge bertemu dengan bumbu Melayu-Nusantara seperti serai, lengkuas, kunyit, cabai, kemiri, dan terasi. Laksa adalah salah satu hasil paling terkenal dari perkawinan dapur ini — mi ala Tionghoa yang dimasak dalam kuah rempah yang kaya.
Dua Aliran Besar: Kuah Santan dan Kuah Asam
Secara garis besar, laksa terbagi dua keluarga:
- Laksa lemak / laksa santan. Kuah kental dan gurih dari santan yang dibumbui kunyit dan rempah kari. Contohnya laksa Katong (Singapura), curry laksa (Malaysia), laksa Betawi, dan laksa Bogor.
- Laksa asam. Kuah bening kecokelatan tanpa santan, asam dan tajam, berbahan dasar ikan (biasanya tenggiri atau kembung) dan asam jawa atau asam gelugur. Contohnya asam laksa Penang dan laksa khas sebagian Sumatra.
Pembagian ini kira-kira mengikuti geografi dan bahan yang tersedia: daerah dengan kelapa melimpah cenderung memakai santan, daerah dengan tangkapan ikan melimpah cenderung memakai kuah ikan.
Sebaran Laksa di Indonesia
Di Indonesia, laksa berkembang menjadi beberapa varian daerah dengan penggemar setianya masing-masing:
- Laksa Betawi — kuah santan kuning, isian bihun, telur, tahu, dan daun kemangi. Menu sarapan khas Jakarta.
- Laksa Bogor — mirip laksa Betawi, tetapi kuahnya diperkaya oncom yang memberi aroma dan rasa lebih kuat.
- Laksa Cibinong dan laksa Tangerang — varian Jabodetabek lain dengan ciri kuah dan pelengkap sedikit berbeda.
- Laksa Medan — cenderung berkuah asam pedas ikan, bukan santan.
- Laksa Palembang — memakai mi dan kuah santan encer dengan potongan ikan.
Laksa sebagai Makanan Pagi dan Warisan Keluarga
Di banyak kota, laksa secara tradisi adalah makanan pagi yang dijajakan keliling atau di lapak pasar sejak subuh. Banyak penjual laksa legendaris menjalankan resep turun-temurun tiga sampai empat generasi, dengan komposisi bumbu yang dijaga rahasia. Sebagian dari mereka kini kesulitan meneruskan usaha karena generasi muda enggan melanjutkan — sehingga sejumlah varian laksa daerah benar-benar terancam hilang.
Kesimpulan
Laksa adalah bukti bahwa perdagangan dan percampuran budaya bisa melahirkan hidangan yang bertahan ratusan tahun dan terus beradaptasi. Dari satu ide dasar — mi, kuah rempah, dan pelengkap segar — lahir puluhan versi yang masing-masing menjadi bagian identitas daerahnya. Mengenal sejarahnya membuat semangkuk laksa terasa lebih dari sekadar sarapan.
